Kamis, 23 Juni 2016
Rabu, 10 Februari 2016
Minggu, 17 Januari 2016
PENERAPAN K3L PROSES PEMBUBUTAN
Penerapan Kesehatan, Keselamatan Kerja dan Lingkungan (K3L) Pada Proses Pembubutan
Kegiatan produksi pada bengkel manufaktur terutama pada proses pembubutan,penerapan kesehatan, keselamatan kerja dan lingkungan (K3L) di lingkungan kerja seharusnya sudah menjadi keasadaran diri yang harus dilaksanakan tanpa adanya peringatan dan bahkan paksaan dari siapapun. Karena pada dasarnya penerapan K3L di lingkungan kerja secara langsung maupun tidak langsung akan berdampak pada diri sendiri, orang disekitarnya, mesin, peralatan dan lingkungan kerja sehari-hari. Dengan demikian, apabila K3L diterapkan dengan penuh kesadaran akan berdampak positif dan jika tidak tentunya akan berdampak negatif terhadap diri sendiri dan lingkungan kerja.
Terdapat beberapa kegiatan standar yang harus dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan terkait penerapan K3L pada saat melakukan proses pembubutan,
diantaranya:
1) Kegiatan yang harus dilakukan
Kegiatan yang harus dilakukan terkait penerapan K3L pada saat proses pembubutan diantaranya:
Menggunakan Pakaian Kerja
Untuk menghindari baju dan celana harian terkena kotoran, oli dan benda-benda lain pada saat melakukan proses pembubutan, operator harus menggunakan pakaian kerja yang standar sebagaimana terlihat pada (Gambar ).
Gambar . Penggunakan pakaian kerja yang standar pada saat proses pembubutan
Menggunakan Kaca Pengaman (Safety Glasses)
Untuk menghindari mata terkena atau kemasukan tatal/beram pada saat proses pembubutan, maka selama melakukan pemotongan harus menggunakan kaca mata yang sesuai standar keselamatan kerja
(Gambar )
Gambar . Menggunaan kaca mata yang standar pada saat proses pembubutan
Menggunakan Sepatu Kerja
Pada saat melakukan proses pembubutan, tidak bisa dihindari adanya chip/ beram yang berserakan dilantai akibat dari hasil pemotongan. Selain itu ada kemungkinan benda/alat atau perlengkapan lain terjatuh dari atas dan juga oli yang berceceran. Maka dari itu, pada saat melakukan proses pembubutan harus menggunakan sepatu kerja sesuai standar yang berlaku (Gambar ).
Gambar . Menggunakan sepatu kerja yang standar pada saat proses pembubutan
Menggunakan Alat Penarik Beram
Proses pembubutan akan menghasilkan potongan tatal/ beram. Hasil potongan yang melilit pada benda kerja, apabila dianggap perlu untuk menghilangkannya harus menggunakan alat penarik beram agar tangan tidak terluka (Gambar ).
Gambar . Penggunakan batang penarik pada saat menarik tatal/ beram
2) Kegiatan yang Tidak boleh dilakukan
Kegiatan yang tidak boleh dilakukan pada saat proses pembubutan diantaranya:
Menempatkan Peralatan Kerja Yang Tidak Aman
Agar semua peralatan aman dan mudah diambil pada saat akan digunakan, perlatan harus diletakkan dan ditempatkan pada posisi yang aman dan ditata dalam penempatannya. Penempatan peralatan sebagaimana (Gambar ), sangat tidak dibenarkan karena peralatan rawan akan terjadinya kerusakan
akibat saling berbenturan atau mudah terjatuh.
Gambar . Penempatkan peralatan kerja yang tidak aman
Meninggalkan Kunci Pada Mulut Pengencang Cekam Mesin Setelah Melepas Benda Kerja
Menempatkan kunci cekam pada mulut pengencang cekam setelah melepas benda kerja (Gambar ), adalah kegiatan yang sangat membahayakan bagi operator dan orang-orang yang ada disekitarnya, karena apabila mesin dihidupkan sedangkan kunci cekam masih menempel di mulut kunci cekam
mesin, kunci cekam akan terlempar dengan arah yang tidak jelas sehingga dapat mengenai siapa saja yang ada disekitarnya.
Gambar . Menempatkan kunci pada mulut pengencang cekam setelah melepas benda kerja
Berkerumunan Disekirtar Mesin Bubut Tanpa Alat Pelindung
Berkerumunan disekirtar mesin bubut tanpa alat pelindung adalah salah satu kegitan yang sangat membahayakan, karena rawan terjadi kecelakaan akibat loncatan tatal/ beram atau perlengkapan mesin bubut yang terjatuh (Gambar)
Gambar . Bekerumunan disekirtar mesin bubut
Membiarkan air Pendingin dan Tatal/Beram Berserakan di Lantai
Dengan membiarkan air pendingan dan tatal berserakan dilantai (Gambar), akan mengakibatkan terjadinya kecelakaan. Misalnya lantai jadi licin sehingga orang yang lewat mudah terjatuh dan tatalnya dapat mengakibatkan orang yang lewat terluka kakinya. Selain itu dilarang keras bekas air pendingin dibuang sembarangan, karena campuran air pendingin mengandung bahan kimia yang berbahaya.
Gambar . Membiarkan air pendingan dan tatal berserakan
Menggunakan Sarung Tangan Pada Saat Melakukan Pembubutan
Menggunakan sarung tangan pada saat melakukan pembubutan, juga sangat tidak dianjurkan. Karena jika menggunakan sarung tangan kepekaan tangan jadi berkurang, sehingga dalam melakukan pengukuran hasil pembubutan kurang sensitif (Gambar ), dan juga tangan jadi kurang peka terhadap kejadian-kejadian lainnya yang dapat mengakibatkan tangan rawan terjadi kecelakaan.
Gambar . Menggunakan sarung tangan pada saat melakukan pembubutan
Membuang Tatal/Beram Bersama Jenis Sampah Lainnya
Kegiatan membuang tatal/beram hasil pembubutan bersama-sama jenis sampah lainnya sangatlah tidak dianjurkan (Gambar ), karena demi kesehatan lingkungan sampah jenis organik dan an-organik seharusnya dibedakan sehingga pengolahan akhirnya lebih mudah
Gambar . Membuang tatal/ beram, besama jenis sampah lainnya
MOTTO :
Anda tidak akan berhasil menjadi pribadi baru bila anda berkeras untuk
mempertahankan cara-cara lama anda. Anda akan disebut baru, hanya bila
cara-cara anda baru
Minggu, 08 November 2015
PERAN GURU
Peran Guru dalam Proses Pendidikan
Penilain Anda!
Efektivitas
dan efisien belajar individu di sekolah sangat bergantung kepada peran guru.
Abin Syamsuddin (2003) mengemukakan bahwa dalam pengertian pendidikan secara
luas, seorang guru yang ideal seyogyanya dapat berperan sebagai :
- Konservator (pemelihara) sistem nilai yang merupakan
sumber norma kedewasaan;
- Inovator (pengembang) sistem nilai ilmu pengetahuan;
- Transmitor (penerus) sistem-sistem nilai tersebut
kepada peserta didik;
- Transformator (penterjemah) sistem-sistem nilai
tersebut melalui penjelmaan dalam pribadinya dan perilakunya, dalam proses
interaksi dengan sasaran didik;
- Organisator (penyelenggara) terciptanya proses
edukatif yang dapat dipertanggungjawabkan, baik secara formal (kepada
pihak yang mengangkat dan menugaskannya) maupun secara moral (kepada
sasaran didik, serta Tuhan yang menciptakannya).
Sedangkan dalam pengertian pendidikan yang
terbatas, Abin Syamsuddin dengan mengutip pemikiran Gage dan Berliner,
mengemukakan peran guru dalam proses pembelajaran peserta didik, yang mencakup
:
- Guru sebagai perencana (planner) yang harus
mempersiapkan apa yang akan dilakukan di dalam proses belajar mengajar
(pre-teaching problems).;
- Guru sebagai pelaksana (organizer), yang harus
dapat menciptakan situasi, memimpin, merangsang, menggerakkan, dan
mengarahkan kegiatan belajar mengajar sesuai dengan rencana, di mana ia
bertindak sebagai orang sumber (resource
person), konsultan kepemimpinan yang bijaksana dalam arti
demokratik & humanistik (manusiawi) selama proses berlangsung (during
teaching problems).
- Guru sebagai penilai (evaluator) yang harus
mengumpulkan, menganalisa, menafsirkan dan akhirnya harus memberikan
pertimbangan (judgement), atas tingkat keberhasilan proses pembelajaran,
berdasarkan kriteria yang ditetapkan, baik mengenai aspek keefektifan
prosesnya maupun kualifikasi produknya.
Selanjutnya, dalam konteks proses belajar
mengajar di Indonesia, Abin Syamsuddin menambahkan satu peran lagi yaitu
sebagai pembimbing (teacher
counsel), di mana guru dituntut untuk mampu mengidentifikasi
peserta didik yang diduga mengalami kesulitan dalam belajar, melakukan
diagnosa, prognosa, dan kalau masih dalam batas kewenangannya, harus membantu
pemecahannya (remedial teaching).
Di lain pihak, Moh. Surya (1997)
mengemukakan tentang peranan guru di sekolah, keluarga dan masyarakat. Di
sekolah, guru berperan sebagai perancang pembelajaran, pengelola pembelajaran,
penilai hasil pembelajaran peserta didik, pengarah pembelajaran dan pembimbing
peserta didik. Sedangkan dalam keluarga, guru berperan sebagai pendidik dalam
keluarga (family
educator). Sementara itu di masyarakat, guru berperan sebagai
pembina masyarakat (social
developer), penemu masyarakat (social
inovator), dan agen masyarakat (social agent).
Lebih jauh, dikemukakan pula tentang
peranan guru yang berhubungan dengan aktivitas pengajaran dan administrasi
pendidikan, diri pribadi (self
oriented), dan dari sudut pandang psikologis.
Dalam hubungannya dengan aktivitas
pembelajaran dan administrasi pendidikan, guru berperan sebagai :
- Pengambil inisiatif, pengarah, dan penilai
pendidikan;
- Wakil masyarakat di sekolah, artinya guru berperan
sebagai pembawa suara dan kepentingan masyarakat dalam pendidikan;
- Seorang pakar dalam bidangnya, yaitu menguasai bahan
yang harus diajarkannya;
- Penegak disiplin, yaitu guru harus menjaga agar para
peserta didik melaksanakan disiplin;
- Pelaksana administrasi pendidikan, yaitu guru
bertanggung jawab agar pendidikan dapat berlangsung dengan baik;
- Pemimpin generasi muda, artinya guru bertanggung
jawab untuk mengarahkan perkembangan peserta didik sebagai generasi muda
yang akan menjadi pewaris masa depan; dan
- Penterjemah kepada masyarakat, yaitu guru berperan
untuk menyampaikan berbagai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi kepada
masyarakat.
Di pandang dari segi diri-pribadinya (self oriented),
seorang guru berperan sebagai :
- Pekerja sosial (social
worker), yaitu seorang yang harus memberikan pelayanan kepada
masyarakat;
- Pelajar dan ilmuwan, yaitu seorang yang harus
senantiasa belajar secara terus menerus untuk mengembangkan penguasaan
keilmuannya;
- Orang tua, artinya guru adalah wakil orang tua
peserta didik bagi setiap peserta didik di sekolah;
- model keteladanan, artinya guru adalah model
perilaku yang harus dicontoh oleh mpara peserta didik; dan
- Pemberi keselamatan bagi setiap peserta didik.
Peserta didik diharapkan akan merasa aman berada dalam didikan gurunya.
Dari sudut pandang secara psikologis, guru
berperan sebagai :
- Pakar psikologi pendidikan, artinya guru merupakan
seorang yang memahami psikologi pendidikan dan mampu mengamalkannya dalam
melaksanakan tugasnya sebagai pendidik;
- seniman dalam hubungan antar manusia (artist in human
relations), artinya guru adalah orang yang memiliki kemampuan
menciptakan suasana hubungan antar manusia, khususnya dengan para peserta
didik sehingga dapat mencapai tujuan pendidikan;
- Pembentuk kelompok (group builder), yaitu
mampu mambentuk menciptakan kelompok dan aktivitasnya sebagai cara untuk
mencapai tujuan pendidikan;
- Catalyc agent atau inovator, yaitu guru merupakan
orang yang yang mampu menciptakan suatu pembaharuan bagi membuat suatu hal
yang baik; dan
- Petugas kesehatan mental (mental hygiene
worker), artinya guru bertanggung jawab bagi terciptanya
kesehatan mental para peserta didik.
Sementara itu, Doyle sebagaimana dikutip
oleh Sudarwan Danim (2002) mengemukan dua peran utama guru dalam pembelajaran
yaitu menciptakan keteraturan (establishing
order) dan memfasilitasi proses belajar (facilitating learning).
Yang dimaksud keteraturan di sini mencakup hal-hal yang terkait langsung atau
tidak langsung dengan proses pembelajaran, seperti : tata letak tempat duduk,
disiplin peserta didik di kelas, interaksi peserta didik dengan sesamanya,
interaksi peserta didik dengan guru, jam masuk dan keluar untuk setiap sesi
mata pelajaran, pengelolaan sumber belajar, pengelolaan bahan belajar, prosedur
dan sistem yang mendukung proses pembelajaran, lingkungan belajar, dan
lain-lain.
Sejalan dengan tantangan kehidupan global,
peran dan tanggung jawab guru pada masa mendatang akan semakin kompleks,
sehingga menuntut guru untuk senantiasa melakukan berbagai peningkatan dan
penyesuaian kemampuan profesionalnya. Guru harus harus lebih dinamis dan
kreatif dalam mengembangkan proses pembelajaran peserta didik. Guru di masa
mendatang tidak lagi menjadi satu-satunya orang yang paling well informed terhadap
berbagai informasi dan pengetahuan yang sedang tumbuh, berkembang, berinteraksi
dengan manusia di jagat raya ini. Di masa depan, guru bukan satu-satunya orang
yang lebih pandai di tengah-tengah peserta didiknya.
Jika guru tidak memahami mekanisme dan pola
penyebaran informasi yang demikian cepat, ia akan terpuruk secara profesional. Kalau hal ini terjadi, ia akan kehilangan kepercayaan
baik dari peserta didik, orang tua maupun masyarakat. Untuk menghadapi tantangan profesionalitas tersebut, guru
perlu berfikir secara antisipatif dan proaktif. Artinya, guru harus melakukan
pembaruan ilmu dan pengetahuan yang dimilikinya secara terus menerus. Disamping
itu, guru masa depan harus paham penelitian guna mendukung terhadap efektivitas
pengajaran yang dilaksanakannya, sehingga dengan dukungan hasil penelitiaan
guru tidak terjebak pada praktek pengajaran yang menurut asumsi mereka sudah
efektif, namum kenyataannya justru mematikan kreativitas para peserta didiknya.
Begitu juga, dengan dukungan hasil penelitian yang mutakhir memungkinkan guru
untuk melakukan pengajaran yang bervariasi dari tahun ke tahun, disesuaikan
dengan konteks perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sedang
berlangsung.
BUKU SAHABAT SETIA
Buku, Sahabat Setia Seumur Hidup
Di dalam kehidupan sehari-harinya saya ditemani bahan-bahan bacaan, entah koran, majalah atau buku-buku. Namun akhir Juli yang lalu saya dikejutkan berita meninggalnya salah seorang komikus
Riwayatnya,
dan komik-komik wayang itulah saya menyukai cerita wayang. Banyak ajaran budi
pekerti luhur yang dapat dipetik dari cerita wayang itu.
Namun yang lebih penting lagi dari semuanya di atas. komik hanyalah merupakan “tangga pertama” (meminjam isilah KPK), saya mulai mencintai buku-buku. Juga beberapa majalah anak-anak seperti “Si Kuncung” waktu itu, ikut mempengaruhi saya untuk suka membaca. Bagi mereka yang berasal dan luar Jawa, mungkin komik wayang terasa agak asing. Namun saya percaya bahwa di luar komik, banyak bahan bacaan lain sejak masa anak-anak yang menyebabkan kita rnenyenangi bacaan. Komik bagi saya hanya “menu pembuka” untuk menuju “menu utama”
berupa buku-buku yang menjadi sahabat saya dalam kehidupan selanjutnya.
Namun yang lebih penting lagi dari semuanya di atas. komik hanyalah merupakan “tangga pertama” (meminjam isilah KPK), saya mulai mencintai buku-buku. Juga beberapa majalah anak-anak seperti “Si Kuncung” waktu itu, ikut mempengaruhi saya untuk suka membaca. Bagi mereka yang berasal dan luar Jawa, mungkin komik wayang terasa agak asing. Namun saya percaya bahwa di luar komik, banyak bahan bacaan lain sejak masa anak-anak yang menyebabkan kita rnenyenangi bacaan. Komik bagi saya hanya “menu pembuka” untuk menuju “menu utama”
berupa buku-buku yang menjadi sahabat saya dalam kehidupan selanjutnya.
Teman Setia
Seumur Hidup
Buku
dapat menjadi teman setia seumur hidup. Namun hal itu tergantung sepenuhnya
pada kita sebagai manusia. Karena buku itu sendiri secara phisik merupakan
benda mati. Apakah henda itu kita baca atau tidak tergantung
sepenuhnya pada kita masing - masing. Bisa saja kita butuh buku karena keharusan,
misalnya anak sekolah atau mahasiswa yang diharuskan membaca buku wajib. Bila
sudah lulus, bisa saja buku itu dicampakkan, tidak kita hiraukan lagi. Lebih
malang lagi nasib buku itu bila di jual ke tukang loak. Seorang rekan yang
pernah tugas belajar beberapa tahun di Jepang membandingkan kebiasaan membaca
orang Jepang dan Indonesia. Di Jepang kita bisa menjumpai orang membaca buku di
mana saja. bukan hanya di rumah atau perpustakaan, tapi juga di tempat-tempat
umum, seperti di dalam kereta bawah tanah, bus atau taman kota. Menurut
pengamatan teman saya tersebut, sebagian besar rakyat Indonesia bukan pembaca
buku, jadi bisa dibayangkan tingkat ilmu pengetahuan mereka rata-rata. Ungkapan
“bangsa yang maju adalah bangsa yang suka baca buku” kiranya tidaklah berlebihan.
Lalu bagaimana
kita yang sudah memasuki usia senja ini, sudah pensiun, karir sudah selesai,
masih adakah gunanya membaca buku? Bagi yang suka baca buku, tentu akan
menjawab “buku tetap berguna”. Buku tetap sumber ilmu pengetahuan yang penting.
Bagi pencinta buku, mengoleksi buku merupakan suatu kebanggaan tersendiri. Buku
merupakan kekayaan yang tak ternilai harganya, dibandingkan dengan jenis-jenis
kekayaan lainnya. Namun akan lebih baik lagi bila buku yang ratusan bahkan ribuan
jumlahnya itu sudah dibaca semua. Bukan seberapa banyak buku yang kita miliki,
namun seberapa banyak buku yang telah kita baca. Membaca buku toh tidak harus dengan
memiliki buku. Buku bisa kita pinjam di
perpustakaan. Perpustakaan sangat berguna bagi siapapun pencinta buku, karena
sesuatu dan lain hal, tidak sempat atau mampu membeli buku.
Dalam
sebuah tulisan di koran minggu, penulis yang bersangkutan memberikan nasihat
bagaimana seorang manula tidak jenuh menjalani kehidupan sehari-hari. Ia
memberikan 3 tip, yakni membaca buku, menulis dan silaturahim dengan teman-teman.
Insyaallah kita lahir batin tetap bugar. Bila menulis kita dapat berbagi
pengetahuan baru dengan sesama. Jadi itu amal juga, bukan? Mudah-mudahan berpahala
juga. Dengan membaca buku dan bacaan lainnya kita dapat berbagi pengetahuan
dalam pertemuan dengan teman-teman. Percayalah, pikiran dan rokhani kita akan
tetap terjaga kesegarannya.
Tapi bagi
mereka yang tidak suka baca, apa lagikah kegunaan ilmu pengetahuan? Membaca buku
dengan mengunyah pengetahuan itu bisa memperlambat kepikunan, nasihat seorang
psikiater dalam suatu ceramahnya. Maka marilah kita jujur dengan tidak
mengabaikan seruan universal yang berhunyi: tuntutlah ilmu dari buaian hingga
liang lahat, sekalipun ke negeri Cina! ***
"Orang lanjut usia yang berorientasi pada
kesempatan adalah orang muda yang tidak pernah menua ; tetapi pemuda yang
berorientasi pada keamanan, telah menua sejak muda"
Langganan:
Postingan (Atom)






























