Selasa, 19 April 2016

Rabu, 10 Februari 2016

GAMBAR UNIK SAAT PRAKTEK (CCTV)

INILAH   GAMBAR - GAMBAR   UNIK   YANG   DI  PERLIHATKAN   SISWA -  SISWA   SMK   SAAT  BERPRAKTEK  DI BENGKEL TEKNIK PEMESINAN, 


























SARAN  :      PERLAKUAN INI JANGAN DITIRU, 


Minggu, 17 Januari 2016

PENERAPAN K3L PROSES PEMBUBUTAN


Penerapan Kesehatan, Keselamatan Kerja dan Lingkungan (K3L) Pada Proses Pembubutan

Kegiatan produksi pada bengkel manufaktur terutama pada proses pembubutan,penerapan kesehatan, keselamatan kerja dan lingkungan (K3L) di lingkungan kerja seharusnya sudah menjadi keasadaran diri yang harus dilaksanakan tanpa adanya peringatan dan bahkan paksaan dari siapapun. Karena pada dasarnya penerapan K3L di lingkungan kerja secara langsung maupun tidak langsung akan berdampak pada diri sendiri, orang disekitarnya, mesin, peralatan dan lingkungan kerja sehari-hari. Dengan demikian, apabila K3L diterapkan dengan penuh kesadaran akan berdampak positif dan jika tidak tentunya akan berdampak negatif terhadap diri sendiri dan lingkungan kerja.
Terdapat beberapa kegiatan standar yang harus dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan terkait penerapan K3L pada saat melakukan proses pembubutan,
diantaranya:

1) Kegiatan yang harus dilakukan

Kegiatan yang harus dilakukan terkait penerapan K3L pada saat proses pembubutan diantaranya:

Menggunakan Pakaian Kerja

Untuk menghindari baju dan celana harian terkena kotoran, oli dan benda-benda lain pada saat melakukan proses pembubutan, operator harus menggunakan pakaian kerja yang standar sebagaimana terlihat pada (Gambar ).

Gambar . Penggunakan pakaian kerja yang standar pada saat proses pembubutan

Menggunakan Kaca Pengaman (Safety Glasses)

Untuk menghindari mata terkena atau kemasukan tatal/beram pada saat proses pembubutan, maka selama melakukan pemotongan harus menggunakan kaca mata yang sesuai standar keselamatan kerja
(Gambar )

Gambar . Menggunaan kaca mata yang standar pada saat proses pembubutan

Menggunakan Sepatu Kerja

Pada saat melakukan proses pembubutan, tidak bisa dihindari adanya chip/ beram yang berserakan dilantai akibat dari hasil pemotongan. Selain itu ada kemungkinan benda/alat atau perlengkapan lain terjatuh dari atas dan juga oli yang berceceran. Maka dari itu, pada saat melakukan proses pembubutan harus menggunakan sepatu kerja sesuai standar yang berlaku (Gambar ). 

Gambar . Menggunakan sepatu kerja yang standar pada saat proses pembubutan 

Menggunakan Alat Penarik Beram 

Proses pembubutan akan menghasilkan potongan tatal/ beram. Hasil potongan yang melilit pada benda kerja, apabila dianggap perlu untuk menghilangkannya harus menggunakan alat penarik beram agar tangan tidak terluka (Gambar ).

Gambar . Penggunakan batang penarik pada saat menarik tatal/ beram

2) Kegiatan yang Tidak boleh dilakukan

Kegiatan yang tidak boleh dilakukan pada saat proses pembubutan diantaranya:

Menempatkan Peralatan Kerja Yang Tidak Aman

Agar semua peralatan aman dan mudah diambil pada saat akan digunakan, perlatan harus diletakkan dan ditempatkan pada posisi yang aman dan ditata dalam penempatannya. Penempatan peralatan sebagaimana (Gambar ), sangat tidak dibenarkan karena peralatan rawan akan terjadinya kerusakan
akibat saling berbenturan atau mudah terjatuh.


Gambar . Penempatkan peralatan kerja yang tidak aman

Meninggalkan Kunci Pada Mulut Pengencang Cekam Mesin Setelah Melepas Benda Kerja 

Menempatkan kunci cekam pada mulut pengencang cekam setelah melepas benda kerja (Gambar ), adalah kegiatan yang sangat membahayakan bagi operator dan orang-orang yang ada disekitarnya, karena apabila mesin dihidupkan sedangkan kunci cekam masih menempel di mulut kunci cekam
mesin, kunci cekam akan terlempar dengan arah yang tidak jelas sehingga dapat mengenai siapa saja yang ada disekitarnya. 


Gambar . Menempatkan kunci pada mulut pengencang cekam setelah melepas benda kerja

Berkerumunan Disekirtar Mesin Bubut Tanpa Alat Pelindung

Berkerumunan disekirtar mesin bubut tanpa alat pelindung adalah salah satu kegitan yang sangat membahayakan, karena rawan terjadi kecelakaan akibat loncatan tatal/ beram atau perlengkapan mesin bubut yang terjatuh (Gambar)


Gambar . Bekerumunan disekirtar mesin bubut

Membiarkan air Pendingin dan Tatal/Beram Berserakan di Lantai

Dengan membiarkan air pendingan dan tatal berserakan dilantai (Gambar), akan mengakibatkan terjadinya kecelakaan. Misalnya lantai jadi licin sehingga orang yang lewat mudah terjatuh dan tatalnya dapat mengakibatkan orang yang lewat terluka kakinya. Selain itu dilarang keras bekas air pendingin dibuang sembarangan, karena campuran air pendingin mengandung bahan kimia yang berbahaya.

Gambar . Membiarkan air pendingan dan tatal berserakan

Menggunakan Sarung Tangan Pada Saat Melakukan Pembubutan

Menggunakan sarung tangan pada saat melakukan pembubutan, juga sangat tidak dianjurkan. Karena jika menggunakan sarung tangan kepekaan tangan jadi berkurang, sehingga dalam melakukan pengukuran hasil pembubutan kurang sensitif (Gambar ), dan juga tangan jadi kurang peka terhadap kejadian-kejadian lainnya yang dapat mengakibatkan tangan rawan terjadi kecelakaan.

Gambar . Menggunakan sarung tangan pada saat melakukan pembubutan

Membuang Tatal/Beram Bersama Jenis Sampah Lainnya

Kegiatan membuang tatal/beram hasil pembubutan bersama-sama jenis sampah lainnya sangatlah tidak dianjurkan (Gambar ), karena demi kesehatan lingkungan sampah jenis organik dan an-organik seharusnya dibedakan sehingga pengolahan akhirnya lebih mudah 

Gambar . Membuang tatal/ beram, besama jenis sampah lainnya





MOTTO :

Anda tidak akan berhasil menjadi pribadi baru bila anda berkeras untuk mempertahankan cara-cara lama anda. Anda akan disebut baru, hanya bila cara-cara anda baru


JOBSHEET KLEM MESIN

JOBSHEET  KLEM MESIN





Salah satu pengkerdilan terkejam dalam hidup adalah membiarkan pikiran yang cemerlang menjadi budak bagi tubuh yang malas, yang mendahulukan istirahat sebelum lelah.


Minggu, 08 November 2015

PERAN GURU

 

Quantcast

Peran Guru dalam Proses Pendidikan

Penilain Anda!



Efektivitas dan efisien belajar individu di sekolah sangat bergantung kepada peran guru. Abin Syamsuddin (2003) mengemukakan bahwa dalam pengertian pendidikan secara luas, seorang guru yang ideal seyogyanya dapat berperan sebagai :
  1. Konservator (pemelihara) sistem nilai yang merupakan sumber norma kedewasaan;
  2. Inovator (pengembang) sistem nilai ilmu pengetahuan;
  3. Transmitor (penerus) sistem-sistem nilai tersebut kepada peserta didik;
  4. Transformator (penterjemah) sistem-sistem nilai tersebut melalui penjelmaan dalam pribadinya dan perilakunya, dalam proses interaksi dengan sasaran didik;
  5. Organisator (penyelenggara) terciptanya proses edukatif yang dapat dipertanggungjawabkan, baik secara formal (kepada pihak yang mengangkat dan menugaskannya) maupun secara moral (kepada sasaran didik, serta Tuhan yang menciptakannya).
Sedangkan dalam pengertian pendidikan yang terbatas, Abin Syamsuddin dengan mengutip pemikiran Gage dan Berliner, mengemukakan peran guru dalam proses pembelajaran peserta didik, yang mencakup :
  1. Guru sebagai perencana (planner) yang harus mempersiapkan apa yang akan dilakukan di dalam proses belajar mengajar (pre-teaching problems).;
  2. Guru sebagai pelaksana (organizer), yang harus dapat menciptakan situasi, memimpin, merangsang, menggerakkan, dan mengarahkan kegiatan belajar mengajar sesuai dengan rencana, di mana ia bertindak sebagai orang sumber (resource person), konsultan kepemimpinan yang bijaksana dalam arti demokratik & humanistik (manusiawi) selama proses berlangsung (during teaching problems).
  3. Guru sebagai penilai (evaluator) yang harus mengumpulkan, menganalisa, menafsirkan dan akhirnya harus memberikan pertimbangan (judgement), atas tingkat keberhasilan proses pembelajaran, berdasarkan kriteria yang ditetapkan, baik mengenai aspek keefektifan prosesnya maupun kualifikasi produknya.
Selanjutnya, dalam konteks proses belajar mengajar di Indonesia, Abin Syamsuddin menambahkan satu peran lagi yaitu sebagai pembimbing (teacher counsel), di mana guru dituntut untuk mampu mengidentifikasi peserta didik yang diduga mengalami kesulitan dalam belajar, melakukan diagnosa, prognosa, dan kalau masih dalam batas kewenangannya, harus membantu pemecahannya (remedial teaching).
Di lain pihak, Moh. Surya (1997) mengemukakan tentang peranan guru di sekolah, keluarga dan masyarakat. Di sekolah, guru berperan sebagai perancang pembelajaran, pengelola pembelajaran, penilai hasil pembelajaran peserta didik, pengarah pembelajaran dan pembimbing peserta didik. Sedangkan dalam keluarga, guru berperan sebagai pendidik dalam keluarga (family educator). Sementara itu di masyarakat, guru berperan sebagai pembina masyarakat (social developer), penemu masyarakat (social inovator), dan agen masyarakat (social agent).
Lebih jauh, dikemukakan pula tentang peranan guru yang berhubungan dengan aktivitas pengajaran dan administrasi pendidikan, diri pribadi (self oriented), dan dari sudut pandang psikologis.
Dalam hubungannya dengan aktivitas pembelajaran dan administrasi pendidikan, guru berperan sebagai :
  1. Pengambil inisiatif, pengarah, dan penilai pendidikan;
  2. Wakil masyarakat di sekolah, artinya guru berperan sebagai pembawa suara dan kepentingan masyarakat dalam pendidikan;
  3. Seorang pakar dalam bidangnya, yaitu menguasai bahan yang harus diajarkannya;
  4. Penegak disiplin, yaitu guru harus menjaga agar para peserta didik melaksanakan disiplin;
  5. Pelaksana administrasi pendidikan, yaitu guru bertanggung jawab agar pendidikan dapat berlangsung dengan baik;
  6. Pemimpin generasi muda, artinya guru bertanggung jawab untuk mengarahkan perkembangan peserta didik sebagai generasi muda yang akan menjadi pewaris masa depan; dan
  7. Penterjemah kepada masyarakat, yaitu guru berperan untuk menyampaikan berbagai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi kepada masyarakat.
Di pandang dari segi diri-pribadinya (self oriented), seorang guru berperan sebagai :
  1. Pekerja sosial (social worker), yaitu seorang yang harus memberikan pelayanan kepada masyarakat;
  2. Pelajar dan ilmuwan, yaitu seorang yang harus senantiasa belajar secara terus menerus untuk mengembangkan penguasaan keilmuannya;
  3. Orang tua, artinya guru adalah wakil orang tua peserta didik bagi setiap peserta didik di sekolah;
  4. model keteladanan, artinya guru adalah model perilaku yang harus dicontoh oleh mpara peserta didik; dan
  5. Pemberi keselamatan bagi setiap peserta didik. Peserta didik diharapkan akan merasa aman berada dalam didikan gurunya.
Dari sudut pandang secara psikologis, guru berperan sebagai :
  1. Pakar psikologi pendidikan, artinya guru merupakan seorang yang memahami psikologi pendidikan dan mampu mengamalkannya dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik;
  2. seniman dalam hubungan antar manusia (artist in human relations), artinya guru adalah orang yang memiliki kemampuan menciptakan suasana hubungan antar manusia, khususnya dengan para peserta didik sehingga dapat mencapai tujuan pendidikan;
  3. Pembentuk kelompok (group builder), yaitu mampu mambentuk menciptakan kelompok dan aktivitasnya sebagai cara untuk mencapai tujuan pendidikan;
  4. Catalyc agent atau inovator, yaitu guru merupakan orang yang yang mampu menciptakan suatu pembaharuan bagi membuat suatu hal yang baik; dan
  5. Petugas kesehatan mental (mental hygiene worker), artinya guru bertanggung jawab bagi terciptanya kesehatan mental para peserta didik.
Sementara itu, Doyle sebagaimana dikutip oleh Sudarwan Danim (2002) mengemukan dua peran utama guru dalam pembelajaran yaitu menciptakan keteraturan (establishing order) dan memfasilitasi proses belajar (facilitating learning). Yang dimaksud keteraturan di sini mencakup hal-hal yang terkait langsung atau tidak langsung dengan proses pembelajaran, seperti : tata letak tempat duduk, disiplin peserta didik di kelas, interaksi peserta didik dengan sesamanya, interaksi peserta didik dengan guru, jam masuk dan keluar untuk setiap sesi mata pelajaran, pengelolaan sumber belajar, pengelolaan bahan belajar, prosedur dan sistem yang mendukung proses pembelajaran, lingkungan belajar, dan lain-lain.
Sejalan dengan tantangan kehidupan global, peran dan tanggung jawab guru pada masa mendatang akan semakin kompleks, sehingga menuntut guru untuk senantiasa melakukan berbagai peningkatan dan penyesuaian kemampuan profesionalnya. Guru harus harus lebih dinamis dan kreatif dalam mengembangkan proses pembelajaran peserta didik. Guru di masa mendatang tidak lagi menjadi satu-satunya orang yang paling well informed terhadap berbagai informasi dan pengetahuan yang sedang tumbuh, berkembang, berinteraksi dengan manusia di jagat raya ini. Di masa depan, guru bukan satu-satunya orang yang lebih pandai di tengah-tengah peserta didiknya.
Jika guru tidak memahami mekanisme dan pola penyebaran informasi yang demikian cepat, ia akan terpuruk secara profesional. Kalau hal ini terjadi, ia akan kehilangan kepercayaan baik dari peserta didik, orang tua maupun masyarakat. Untuk menghadapi tantangan profesionalitas tersebut, guru perlu berfikir secara antisipatif dan proaktif. Artinya, guru harus melakukan pembaruan ilmu dan pengetahuan yang dimilikinya secara terus menerus. Disamping itu, guru masa depan harus paham penelitian guna mendukung terhadap efektivitas pengajaran yang dilaksanakannya, sehingga dengan dukungan hasil penelitiaan guru tidak terjebak pada praktek pengajaran yang menurut asumsi mereka sudah efektif, namum kenyataannya justru mematikan kreativitas para peserta didiknya. Begitu juga, dengan dukungan hasil penelitian yang mutakhir memungkinkan guru untuk melakukan pengajaran yang bervariasi dari tahun ke tahun, disesuaikan dengan konteks perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sedang berlangsung.

BUKU SAHABAT SETIA



Buku, Sahabat Setia Seumur Hidup


Di dalam kehidupan sehari-harinya saya ditemani bahan-bahan bacaan, entah koran, majalah atau buku-buku. Namun akhir Juli yang lalu saya dikejutkan berita meninggalnya salah seorang komikus Indonesia terkemuka, RA Kosasih. Dari berita di koran saya juga baru tahu bahwa dua huruf “RA” di depan nama komikus kondang itu merupakan singkatan dan “Raden Achmad.” Dahulu, sekian puluh tahun yang lalu saya sebagai penikmat komik-komik RA Kosasih menyangka “RA” itu adalah “Raden Ajeng”, karena selalu mengingatkan saya pada nama tokoh nasional RA Kartini. Namun, yang lebih penting lagi karya-karya komik almarhum RA Kosasih ikut mewarnai kehidupan saya sejak saya masih duduk di bangku SD. Teristimewa komik-komik seperti Ramayana (10 buku), Mahabharata (40 buku), dan juga beberapa karya komik lainnya seperti Siti Gahara, Hikayat Panji Semirang, dan lain-lain. Semua komik karya RA Kosasih sudah saya lahap semua. Bahkan saya membacanya rata-rata lebih dari satu kali. Beberapa bulan yang lalu saya kok rindu sekali untuk membaca kembali komik-komik yang menemani saya hampir setengah abad yang lalu itu. 
Riwayatnya, dan komik-komik wayang itulah saya menyukai cerita wayang. Banyak ajaran budi pekerti luhur yang dapat dipetik dari cerita wayang itu.
Namun yang lebih penting lagi dari semuanya di atas. komik hanyalah merupakan “tangga pertama” (meminjam isilah KPK), saya mulai mencintai buku-buku. Juga beberapa majalah anak-anak seperti “Si Kuncung” waktu itu, ikut mempengaruhi saya untuk suka membaca. Bagi mereka yang berasal dan luar Jawa, mungkin komik wayang terasa agak asing. Namun saya percaya bahwa di luar komik, banyak bahan bacaan lain sejak masa anak-anak yang menyebabkan kita rnenyenangi bacaan. Komik bagi saya hanya “menu pembuka” untuk menuju “menu utama”
berupa buku-buku yang menjadi sahabat saya dalam kehidupan selanjutnya.

Teman Setia Seumur Hidup
Buku dapat menjadi teman setia seumur hidup. Namun hal itu tergantung sepenuhnya pada kita sebagai manusia. Karena buku itu sendiri secara phisik merupakan benda mati. Apakah henda itu kita baca atau tidak tergantung sepenuhnya pada kita masing - masing. Bisa saja kita butuh buku karena keharusan, misalnya anak sekolah atau mahasiswa yang diharuskan membaca buku wajib. Bila sudah lulus, bisa saja buku itu dicampakkan, tidak kita hiraukan lagi. Lebih malang lagi nasib buku itu bila di jual ke tukang loak. Seorang rekan yang pernah tugas belajar beberapa tahun di Jepang membandingkan kebiasaan membaca orang Jepang dan Indonesia. Di Jepang kita bisa menjumpai orang membaca buku di mana saja. bukan hanya di rumah atau perpustakaan, tapi juga di tempat-tempat umum, seperti di dalam kereta bawah tanah, bus atau taman kota. Menurut pengamatan teman saya tersebut, sebagian besar rakyat Indonesia bukan pembaca buku, jadi bisa dibayangkan tingkat ilmu pengetahuan mereka rata-rata. Ungkapan bangsa yang maju adalah bangsa yang suka baca buku kiranya tidaklah berlebihan.
Lalu bagaimana kita yang sudah memasuki usia senja ini, sudah pensiun, karir sudah selesai, masih adakah gunanya membaca buku? Bagi yang suka baca buku, tentu akan menjawab “buku tetap berguna”. Buku tetap sumber ilmu pengetahuan yang penting. Bagi pencinta buku, mengoleksi buku merupakan suatu kebanggaan tersendiri. Buku merupakan kekayaan yang tak ternilai harganya, dibandingkan dengan jenis-jenis kekayaan lainnya. Namun akan lebih baik lagi bila buku yang ratusan bahkan ribuan jumlahnya itu sudah dibaca semua. Bukan seberapa banyak buku yang kita miliki, namun seberapa banyak buku yang telah kita baca. Membaca buku toh tidak harus dengan memiliki buku. Buku bisa kita pinjam di perpustakaan. Perpustakaan sangat berguna bagi siapapun pencinta buku, karena sesuatu dan lain hal, tidak sempat atau mampu membeli buku.
Dalam sebuah tulisan di koran minggu, penulis yang bersangkutan memberikan nasihat bagaimana seorang manula tidak jenuh menjalani kehidupan sehari-hari. Ia memberikan 3 tip, yakni membaca buku, menulis dan silaturahim dengan teman-teman. Insyaallah kita lahir batin tetap bugar. Bila menulis kita dapat berbagi pengetahuan baru dengan sesama. Jadi itu amal juga, bukan? Mudah-mudahan berpahala juga. Dengan membaca buku dan bacaan lainnya kita dapat berbagi pengetahuan dalam pertemuan dengan teman-teman. Percayalah, pikiran dan rokhani kita akan tetap terjaga kesegarannya.
Tapi bagi mereka yang tidak suka baca, apa lagikah kegunaan ilmu pengetahuan? Membaca buku dengan mengunyah pengetahuan itu bisa memperlambat kepikunan, nasihat seorang psikiater dalam suatu ceramahnya. Maka marilah kita jujur dengan tidak mengabaikan seruan universal yang berhunyi: tuntutlah ilmu dari buaian hingga liang lahat, sekalipun ke negeri Cina! ***

"Orang lanjut usia yang berorientasi pada kesempatan adalah orang muda yang tidak pernah menua ; tetapi pemuda yang berorientasi pada keamanan, telah menua sejak muda"